Apa itu Zat Non-Biodegradable? | Contoh, Perawatan, Pro dan Kontra

Saat melakukan aktivitas kita sehari-hari, kita menghasilkan berbagai zat yang sebagian besar dibuang sebagai limbah. Beberapa dari mereka ditindaklanjuti oleh mikroorganisme seperti bakteri atau saprofit untuk energi; beberapa tidak.

Karena tidak semua zat dapat dipecah oleh enzim untuk menghasilkan energi. Misalnya, mikroorganisme seperti saprofit atau bakteri tidak dapat mengurai bahan buatan manusia seperti plastik. Bahan-bahan tersebut dapat dipecah oleh panas dan tekanan yang berkepanjangan. Tetapi ini semua adalah proses fisik dan bukan proses biologis.

Bahan atau zat yang tidak dapat ditindaklanjuti oleh proses biologis dikenal sebagai zat yang tidak dapat terurai. Zat-zat ini cenderung tidak aktif dan mungkin terus ada di lingkungan selama ribuan tahun. Beberapa di antaranya bahkan dapat membahayakan elemen dan komponen ekosistem lainnya.

Contoh Zat Non-Biodegradable

Sebagian besar zat non-biodegradable cenderung dihasilkan oleh manusia di beberapa laboratorium melalui eksperimen. Akibatnya, upaya untuk membuat bahan tersebut tahan terhadap proses fisik dan biologis seringkali mendalam. Tujuannya adalah untuk menciptakan zat yang tahan lama sehingga produk yang dibuat dari zat tersebut tetap tidak rusak lama setelah digunakan.

Beberapa contoh penting zat yang tidak dapat terurai meliputi:

  • Polietilena
  • Botol-botol plastik
  • Paket tetra
  • Kertas karbon
  • Kaca
  • Polimer buatan manusia
  • Sampah elektronik, dan masih banyak lagi.

Bagaimana Zat Non-Biodegradable diperlakukan?

Tidak seperti zat Biodegradable, zat non-biodegradable tidak terurai melalui tindakan mikroorganisme. Panas dan tekanan dapat melelehkannya dalam jangka panjang. Namun, waktu yang dibutuhkan oleh proses fisik seperti itu terlalu lama untuk kesehatan planet ini.

Oleh karena itu, diperlukan beberapa bentuk intervensi eksternal untuk mempercepat proses penguraian zat-zat yang membandel tersebut. Salah satu intervensi tersebut adalah penerapan hierarki pengelolaan sampah.

Ini bertujuan untuk mengelola zat-zat yang tidak dapat terurai secara hayati dengan mengekstraksi jumlah maksimum manfaat praktis darinya sambil mengurangi dampak keseluruhannya terhadap lingkungan. Konsep dari 3R, yaitu Kurangi-Gunakan Kembali-Daur Ulang adalah alat penting dari hierarki pengelolaan sampah.

  1. Mengurangi berarti pemilihan dan pemanfaatan sumber daya secara hati-hati untuk menghasilkan bahan limbah dalam jumlah minimum.
  2. Penggunaan kembali mengacu pada pemanfaatan berulang kali barang atau komponennya yang masih dapat digunakan.
  3. Akhirnya, Daur ulang memerlukan pemanfaatan bahan limbah itu sendiri melalui konversi menjadi sumber daya yang berguna.

Diantaranya 3R, Kurangi adalah cara paling efisien untuk mengelola zat yang tidak dapat terurai secara hayati dan diikuti oleh Penggunaan kembali. Mendaur ulang diambil sebagai upaya terakhir untuk mengelola zat yang tidak dapat terurai karena cenderung sangat mahal.

Keuntungan dari Zat Non-Biodegradable

Beberapa keuntungan signifikan dari zat Non-biodegradable meliputi:

  1. Zat non-biodegradable cenderung fleksibel dan dapat dibentuk menjadi bentuk atau bentuk apa pun yang diinginkan pabrikan.
  2. Zat yang tidak dapat terurai memiliki titik leleh yang tinggi. Akibatnya, mereka cenderung bertahan hidup bahkan di bawah suhu yang terlalu tinggi.
  3. Karena cenderung tahan terhadap suhu dan tekanan, produk yang diproduksi dengan bahan yang tidak dapat terurai cenderung relatif tahan lama.
  4. Produk yang dibuat dengan bahan non-biodegradable cenderung ringan. Fitur ini meningkatkan portabilitasnya.

Kekurangan Zat Non-Biodegradable

Kerugian dari zat non-biodegradable banyak, khususnya dalam hal kesehatan lingkungan. Beberapa kerugian penting dari zat Non-biodegradable meliputi:

  1. Zat yang tidak dapat terurai membutuhkan waktu ribuan tahun untuk terurai. Akibatnya, mereka menumpuk di lingkungan, yang, pada gilirannya, mengarah pada biomagnifikasi.
  2. Ketika mereka menumpuk, lingkungan mulai menjadi tidak bersih karena pencemaran air dan tanah.
  3. Limbah non-biodegradable yang dihasilkan oleh aktivitas manusia kembali kepada mereka sebagai makanan yang ditanam di lahan yang tercemar.
  4. Hewan sering berakhir mengkonsumsi limbah non-biodegradable. Limbah ini bertahan di tubuh mereka dan secara bertahap mendorong mereka pada akhirnya menuju kematian.
  5. Pembakaran zat non-biodegradable menyebabkan polusi udara.

Referensi

  1. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0043135404002362
x
2D vs 3D